Subscribe:

Pengembangan Keterampilan Gerak Dasar Motorik Anak Usia Dini Melalui Aktivitas Bermain


Pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia


Pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia saat ini sedang menjadi sorotan masyarakat, karena pendidikan pada anak usia dini sebagai tempat awal pertama anak belajar berbagai kemampuan dasar sebagai bekal untuk mengembangkan kehidupan , baik pribadinya sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara. Kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh anak usia dini bukan saja memperkenalkan dan mempersiapkan dirinya untuk belajar seperti mengenal huruf, menulis, berhitung, akan tetapi juga kemampuan secara intelektualnya, kepribadian dan lingkup sosial anak.

Akan tetapi fenomena yang terjadi di lapangan selama penulis melakukan survey di beberapa Taman Kanak-kanak masih jarang guru mencoba untuk menerapkan bimbingan yang dapat mengembangkan keterampilan anak secara umum dan khususnya keterampilan gerak motorik anak. Persepsi guru tentang bimbingan masih seputar upaya kuratif saja apabila menemui anak yang mengalami masalah dan hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya saja. Hal tersebut tidaklah keliru akan tetapi pemahaman kentang konsep bimbingan seharusnya diartikan secara luas dan bukan hanya upaya kuratif saja. Persepsi dan konsep belajar yang dipahami oleh orang tua dan pendidik dalam hal ini guru pada masa sekarang ini masih sangat sempit dan terbatas. Praktek pendidikan dan keterampilan anak di Taman Kanak-kanak (TK) menjadi sangat berorientasi pada kegiatan-kegiatan akademik. Dalam proses pembelajaran pada anak usia dini saat ini masih terarah pada upaya untuk memenuhi tujuan yang bersifat simbolisme artifisial, terstruktur dan hanya mengejar target kurikulum. Belajar identik dengan duduk diam, memperhatikan penjelasan guru dan atau mengerjakan serangkaian tugas-tugas materi pembelajaran.

Demikian juga dengan pengukuran kemampuan dan keberhasilan anak yang dilakukan oleh guru hanya didasarkan pada pencapaian nilai yang tinggi, peringkat di kelas dan lain-lain. Umumnya para orang tua dan guru merasa senang dan bangga apabila anak tersebut mendapatkan nilai tinggi dengan tanpa memperdulikan bagaimana cara untuk mendapatkan nilai tersebut. Padahal penilaian pencapaian kemajuan belajar yang tepat dan akurat tentang anak harus dilihat dalam setting lingkungan secara multi, inter dan transdisipliner.

Cara dan perlakuan orang tua secara tidak disadari mengarahkan anak untuk mempersepsikan kegiatan belajar secara tidak tepat. Demikian juga dengan kegiatan yang dilakukan di sekolah, guru dalam memberikan aktivitas bermain masih kurang dalam mengembangkan gerak dasar motorik sehingga kegiatan belajar seperti di Taman Kanak-kanak menjadi kurang menyenangkan bagi anak.

Melalui pemberian pengalaman belajar anak melalui interaksi sosial dengan cara kegiatan bermain untuk mengembangkan gerak dasar motoriknya maka hal tersebut merupakan suatu hal yang amat berharga yang diperoleh anak sehingga diharapkan menjadi suatu pondasi atau dasar yang kuat bagi proses pembelajaran selanjutnya maupun pencapaian kemampuan lainnya nanti setelah menempuh Sekolah Dasar atau pada tingkat yang lebih tinggi lagi.

Mungkinkah guru menilai kemampuan gerak dasar anak tidak hanya berdimensi angka-angka tetapi juga indikator pencapaian tugas perkembangan anak usia dini?